Tag

, , , , ,


Keberhasilan suatu bangsa sesuai yang disiratkan sila-sila dalam Pancasila, memerlukan sebuah cara atau sebuah strategi. Untuk melaksanakannya dan dalam hal ini kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani Pendidikan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK a.k.a ICT). Suatu cara yang perlu mendapatkan pioritas yang tinggi dalam perencanaan pembangunan Sistem Pendidikan di Indonesia.

Keberhasilan suatu Sistem Pendidikan dalam membangun bangsa adalah terjadinya keseimbangan tujuan-tujuan pendidikan yang akan mencapai manusia seutuhnya. Dan yang terjadi di Indonesia tidak terjadi sinkronasi antara Sistem Ekonomi Pendidikan dengan faktor makro ekonomi dan faktor mikro ekonomi, hal ini bisa terjadi terjadi karena akademis, bisnis, pemerintah dan komunitas belum menyediakan parameter jembatan yang tepat (bridging).

Faktor “bridging” ini adalah adanya lembaga-lembaga akademis, bisnis dan pemerintah yang belum fokus dan tidak punya strategi yang sinkron dengan lembaga lainya. Atau dalam istilah sederhana, antar lembaga ini berdiri sendiri-sendiri dengan visi masing-masing tanpa memperhatikan hubungannya dan keterkaitannya dengan lembaga lainnya khususnya kaitannya dengan Pengembangan Modal Insani berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seharusnya melibatkan institusi di bidang Sumber Daya Manusia (Badan Kepegawaian Negara dan Daerah), Keuangan (Kementerian Keuangan), Pemerintahan (Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah), Sarana dan Prasarana (Kementerian Pekerjaan Umum), Telematika (Kementrian Kominfo), Legal (Kementerian Hukum dan HAM) dan lembaga lain dikalangan akademis, bisnis, birokrasi dan komunitas (Academic, Business, Goverbment & Community) untuk mencapai hal itu.

Journal of Herry

“Gimana Eduqo, Her…?” ujar Rendy sambil menyuap sepotong Sausage Rol.

Saya yang sibuk mengunyah Choco Lava, sontak terdiam. Halus saya usap bibir yang menyisakan remah kue itu dengan tisue. Seteguk air mineral disesap. “Gue galau….”

Mata Rendy bertanya.

“Eduqo dalam keadaan sekarat…,” dalam berat saya bertutur.

Sekelebat tentang Eduqo melintas kilat di benak.

Eduqo, startup yang saya dirikan Mei 2012. Media online yang khusus me-review perkembangan teknologi pendidikan di Indonesia. Sempat menjadi partner lokal Google Indonesia kurang lebih satu tahun. Sempat menjadi content partner majalah Usahawan Nusantara asal Malaysia yang terdistribusi di Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia tentu saja. Sempat diliput media asal Singapura yang membahas startup, e27. Eduqo memang lebih diapresiasi di luar Indonesia. Namun….

“…menjadikan pendidik sebagai target market di Indonesia ini ternyata kurang seksi…,” ungkap saya apa adanya.

“Tapi elu bisa mengubah konsep bisnis Eduqo menjadi EO yang fokus pada bidang…

Lihat pos aslinya 145 kata lagi