Tag

, , , , , ,


Jati Diri Pendidik

Saat ini kesulitan pilihan hidup menjadi pendidik lebih berat dari masa sebelumnya. Di luar tantangan masalah ekonomi dan gaya hidup materialistis, hanya seorang guru yang mempertahankan idealisme memfasilitasi anak didiknya menumbuhkembangkan jati diri yang berkarakter yang bisa mempertahankan kehormatan sebagai pendidik. Artinya idealnya seorang guru harus memberikan dirinya secara total bagi dunia pendidikan, sebuah keadaan yang berat di tengah semua persoalan hidup yang harus dihadapi seorang guru. Maka perlu ada strategi untuk menyiasati beban-beban struktural-administratif kependidikan agar tidak menjerat guru ke dalam perangkap yang melelahkan sehingga mereka melepaskan idealisme dan semangat yang dibutuhkan. Strategi ini antara lain adalah menciptakan kondisi yang memacu untuk terus-menerus belajar.

Guru yang berkualitas selalu mengembangkan profesionalismenya secara penuh. Dia tak akan merengek-rengek meminta diangkat sebagai pegawai negeri atau guru tetap sebab pekerjaannya telah membuktikan, kinerjanya layak dihargai. Mungkin ini salah satu alternatif yang bisa dilakukan guru untuk mengembangkan dan mempertahankan idealismenya pada masa sulit. Namun, idealisme ini akan kian tumbuh jika ada kebijakan politik pendidikan yang mengayomi, melindungi, dan menghargai profesi guru. Pemerintah sudah seharusnya menggagas peraturan perundang-undangan yang melindungi profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri atau swasta, dengan memberi jaminan minimal yang diperlukan agar kesejahteraan dan martabat guru terjaga.

Visi guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Menjadi pelaku perubahan, perubahan itu harus tampil pertama-tama dalam diri guru. Hal inilah yang menjadi pemikiran dan strategi utama bagi para guru agar mampu menjadi pelaku perubahan dan pendidik karakter yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita dewasa ini.

Di zaman persaingan ketat seperti sekarang, kinerja menjadi satu-satunya cara untuk mengukur mutu seorang guru. Karena itu, status pegawai negeri, swasta, tetap, atau honorer tidak terlalu relevan dikaitkan gagasan tentang profesionalisme kinerja seorang guru. Di banyak tempat lembaga swasta yang besar dan maju, status pegawai tetap malah membuat lembaga pendidikan swasta tidak mampu mengembangkan gurunya secara profesional sebab mereka telah merasa mapan. Demikian juga yang menjadi pegawai negeri, banyak yang telah merasa nyaman sehingga lalai mengembangkan dirinya. Oleh karena itu guru harus kembali pada jati dirinya yaitu memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu ramah, terbuka, akrab, mau mengerti, dan mau belajar terus-menerus agar semakin menunjukkan jati diri keguruannya.

Pendidikan dan Masalah Moral

Dunia memang sedang mencari keseimbangan. Ditengah maraknya fenomena perilaku amoral yang melibatkan peserta didik sebagai pelakunya, seperti seks pra-nikah, video porno, penyalahgunaan NAPZA dan minuman keras, tawuran, kekerasan perploncoan, penghinaan guru dan sesama murid melalui facebook. Bahkan kasus-kasus korupsi, kolusi dan manipulasi yang prevalensinya banyak melibatkan orang-orang terdidik dan terpelajar. Hal ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan yang idealnya melahirkan generasi-generasi terdidik dan beretika sekaligus menjadi musuh utama fenomena-fenomena perilaku amoral tersebut.

Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran para tokoh-tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi yang memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). Begitu pula, Dr. Martin Luther King yang pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). Bahkan pendidikan yang menghasilkan manusia berkarakter ini telah lama didengung-dengungkan oleh pandita pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, dengan pendidikan yang berpilar kepada Cipta, Rasa dan Karsa. Bermakna bahwa pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan (knowledge) tetapi juga mengasah afeksi moral sehingga menghasilkan karya bagi kepentingan ummat manusia.

Berdasarkan latar belakang fenomena dan pendapat para tokoh inilah, dunia pendidikan saat ini mencoba mengevaluasi sistem pembelajarannya untuk menghasilkan manusia berkarakter. Proses pencarian jati diri sistem pendidikan, khususnya di Indonesia inilah yang merupakan arah untuk mencapai keseimbangan atau kondisi homeostatic yang relatif sebagaimana setiap manusia mempunyai keinginan untuk mencapainya. Di sinilah peran sekolah dan guru sebagai institusi pendidikan formal sebagai posisi yang ‘tertantang’ dalam menghadapi fenomena yang berkaitan dengan globalisasi dan degradasi moral.

Pendidik Sebagai “Orang Tua” Muridnya

Dalam konteks pendidikan saat ini, yang disebut pendidik ini dikenal dengan sebutan guru atau dosen. Jenjang pendidikan ini dimuali dari Play Group (kelas bermain), TK (Taman kanak-kanak), SD (Sekolah dasar), SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) , dan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), dan perguruan tinggi.

Paradigma yang lama percaya bahwa guru itu tugasnya mengajar, dalam pengertian mengajari siswa sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa atau minim pengetahuan dan pengalaman. Belajar dengan demikian sekedar atau lebih menekankan pada transfer of knowledge saja. Atau dapat disebut belajar itu adalah hanya menekankan aspek kognitif siswa belaka, tanpa mengembangkan afeksi dan psikomotornya.

Sebenarnya paradigm lama ini beralasan juga, jika kita melihat bahwa zaman dahulu itu, fasilitas serba terbatas, apa-apa susah, pendek kata perangkat belajar itu minim. Sehingga adalah pilihan yang paling memungkinkan ketika guru itu memakai metode ceramah belaka dan murid mencatat.

Namun pada masa kini, ketika sumber belajar itu beragam, ketika buku itu bukan satu- satunya sumber belajar. Ketika teknologi dan informasi sedemikian berkembang, ada internet, melimpahnya perpustakaan, fasilitas dan sebagainya, maka memakai paradigm yang lama adalah masalah yang besar.

Dus, menjadi pendidik saat ini adalah sinergi yang kokoh antara menjadi guru dalam pengertian mengajari, fasilitator dalam pengertian menyediakan diri untuk berbagi bersama dalam curahan ilmu, dan sekaligus menjadi orang tua yang senantiasa membimbing dan mengarahkan para siswa- siswi.

Pendidik sebagai Orang tua adalah fungsi pembelajaran yang bermakna bahwa guru harus dapat berfungsi sebagai orang tua yang baik dan bijaksana. Guru tidak hanya bertanggung jawab menuntaskan standar minimal penilaian suatu kompetensi dasar atau bahkan keseluruhan materi bahan pembelajaran. Tetapi ia harus ikut mendampingi aspek sikap dan perubahan perilaku yang diharapkan dari peserta didik.

Fungsi sebagai orang tua ini dilandasi bahwa secara nyata usia guru tentu di atas para siswa, sehingga diharapkan ia dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan pada para peserta didik, dapat melindungi kepentingan bersama, memberi teladan dan memotivasi para siswa untuk berbuat sesuatu yang positif.