Tag

, , , , , , , ,


Prasangka di Dunia Pendidikan

Sering para pendidik merasa bahwa dunia pendidikan di Indonesia tidak adil. Mereka merasa menjadi objek, bukan subjek proses pendidikan. Kadang timbul prasangka antara pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan dimana kedua belah fihak membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek pendidikan.

Awalnya istilah prasangka merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang sebelum memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Selanjutnya prasangka juga diterapkan pada bidang lain selain ras. Pengertiannya sekarang menjadi sikap yang tidak masuk akal yang tidak terpengaruh oleh alasan rasional.

John E. Farley mengklasifikasikan prasangka ke dalam tiga kategori:

  1. Prasangka kognitif, merujuk pada apa yang dianggap benar.
  2. Prasangka afektif, merujuk pada apa yang disukai dan tidak disukai.
  3. Prasangka konatif, merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak.

Cara Mengurangi Prasangka Pendidik

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan Pemangku Kepentingan Pendidikan untuk mengurangi dan mencegah timbulnya prasangka Pendidik, yaitu :

  1. Melakukan kontak langsung antara Pemangku Kepentingan Pendidikan (Pemerintah/Kementrian/Dinas Pendidikan, Pendidik dan  Peserta Didik, bahkan Orang Tua/Wali, masyarakat serta Kalangan Akademis, Bisnis dan Birokratis lain)
  2. Mendidik masyarakat untuk tidak saling membenci termasuk Pemangku Kepentingan Pendidikan
  3. Mengoptimalkan peran orang tua, pendidik, individu dewasa yang dianggap penting oleh murid, masyarakat dan media massa untuk membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui contoh perilaku yang ditunjukkan (reinforcement positive).
  4. Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang individu lain, yaitu belajar mengenal dan memahami individu lain.

Merubah Ancaman dan Kekurangan Menjadi Kesempatan dan Kekuatan Pendidik

Wajar kiranya Pemangku Kepentingan Pendidikan (terutama Pendidik) melakukan analisis SWOT, suatu metode yang dapat memberikan panduan untuk para regulator, manajemen dan staf yang terlibat dalam pendidikan. Hal ini dapat menganalisis apa yang efektif dan kurang efektif dalam sistem dan prosedur untuk Pendidik dan Lembaga Pendidikan. Hal ini merupakan persiapan untuk rencana beberapa kegiatan yang bisa berbentuk audit, penilaian, cek kualitas dll. Bahkan SWOT dapat digunakan untuk analisis perencanaan atau kegiatan yang dapat mempengaruhi keputusan masa depan Pendidik dan Lembaga Pendidikan. Hal ini dapat memungkinkan kita untuk melakukan analisis yang lebih komprehensif.

Seperti diketahui Definisi SWOT untuk Pendidik dan Lembaga Pendidikan adalah:

  1. Strength (Kekuatan) – Faktor Internal Pendidik dan Lembaga Pendidikan yang cenderung memiliki efek positif (atau menjadi enabler untuk) mencapai tujuan.
  2. Weakness (Kelemahan) – Faktor Internal Pendidik dan Lembaga Pendidikan yang mungkin memiliki efek negatif (atau menjadi penghalang untuk) mencapai tujuan.
  3. Opportunity (Peluang) – Faktor Eksternal yang cenderung memiliki efek positif pada pencapaian atau tujuan pendidik dan sekolah, atau tujuan yang sebelumnya tidak dipertimbangkan
  4. Threat (Ancaman) – Faktor Eksternal atau kondisi yang cenderung memiliki efek negatif pada pencapaian tujuan Pendidik dan Lembaga Pendidikan, atau membuat tujuan berlebihan atau sulit dicapai.

Sebelum memulai setiap proses perencanaan atau analisis SWOT, kita harus memiliki tujuan yang jelas dan SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic and Time-bound/Sensitive). Apa yang kita butuhkan untuk mencapainya atau memecahkan masalahnya? Pastikan bahwa semua pemangku kepentingan kunci (relevan dengan masalah yang sedang dieksplorasi) memberikan perhatian pada  tujuan ini.

Jadi jelas bahwa Pendidik dan Lembaga Pendidikan harus “Fokus Pada Solusi Bukan Pada Masalah”. Caranya adalah dengan “Merubah Ancaman dan Kekurangan Menjadi Kesempatan dan Kekuatan” dengan melakukan Analisis SWOT seperti di atas.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=gfVNvhpf5Gw]