Tag

, , , , , ,


Rokok dan pendidikan adalah paradoks yang bertentangan secara pedagogis/andragogis, akademis, ekonomis, medis dan etis. Ini adalah tanggung jawab pada anak cucu bahwa kita berhak dan wajib “Digugu dan Ditiru”

Wajar kalau industri rokok menganggap Indonesia adalah “The Last Frontier” bagi mereka…..Justru, di negara maju termasuk Eropa dan Amerika, harga rokok minimal $7 s/d $10.50/bks(Rp.67rb s/d 103rb) termasuk “Sin Tax” (Pajak Dosa). Bahkan Gubernur Newyork memaksa Kios Rokok tidak terlihat oleh publik…..

Begitu pula di Singapura yang mempunyai larangan ketat tentang merokok terutama di sekolah dan kampus. Hanya tempat-tempat bertanda smoking area, orang-orang diperbolehkan merokok. Larangan merokok yang diberlakukan di negara ini senantiasa didukung dengan tindakan dimana Singapura merupakan termasuk salah satu negara yang memberlakukan harga rokok dengan sangat mahal yaitu sekitar $8-$15/bungkus.

Dan kita di Indonesia, “Laggards” (Ketinggalan Kereta Api) terhadap salah satu perkembangan terkini kehidupan menyehatkan, menyenangkan dan berkelanjutan di dunia bagi anak cucu kita. Mungkin kita perlu ingat empat pilar pendidikan dari UNESCO sebagai badan tertinggi pendidikan dunia yaitu: 

1. Belajar untuk mengetahui
2. Belajar untuk melakukan
3. Belajar untuk hidup bersama
4. Belajar menjadi seseorang

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=DiyWK3fzTpA]