Tag

, , , , , , , ,


Hak Asasi Manusia (Dari Wikipedia bahasa Indonesia)

HAM adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia dalam kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1

Dalam kaitannya dengan itu, maka HAM yang kita kenal sekarang adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan yang hak-hak yang sebelumnya termuat, misal, dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika atau Deklarasi Perancis. HAM yang dirujuk sekarang adalah seperangkat hak yang dikembangkan oleh PBB sejak berakhirnya perang dunia II yang tidak mengenal berbagai batasan-batasan kenegaraan. Sebagai konsekuensinya, negara-negara tidak bisa berkelit untuk tidak melindungi HAM yang bukan warga negaranya. Dengan kata lain, selama menyangkut persoalan HAM setiap negara, tanpa kecuali, pada tataran tertentu memiliki tanggung jawab, utamanya terkait pemenuhan HAM pribadi-pribadi yang ada di dalam jurisdiksinya, termasuk orang asing sekalipun. Oleh karenanya, pada tataran tertentu, akan menjadi sangat salah untuk mengidentikan atau menyamakan antara HAM dengan hak-hak yang dimiliki warga negara. HAM dimiliki oleh siapa saja, sepanjang ia bisa disebut sebagai manusia.

Hak Asasi Sang Pencipta

Allah Ta’ala berfirman: ” Hai, orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (Q.S. An-Nisaa’: 59)

”Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling, niscaya Dia akan menyiksanya dengan siksa yang pedih.” ( Q.S. Al-Fath : 17 )

Sesungguhnya Rasulullah saw tidak berbicara menurut hawa nafsunya. Semua perintah dan larangannya bersandar pada wahyu ilahi. Maka, menaati Nabi saw berarti menaati Allah Ta’ala.

Allah swt, berfirman: ”Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah saw, bersabda,” Tidaklah seseorang dari kamu beriman hingga aku lebih dicintainya daripada ayah dan anak serta orang-orang semuanya.”

Skala Prioritas

Dikutip dari Asy-Syariah Online, Isu-isu tentang Hak Asasi Manusia (HAM) terus marak diusung. Tampilannya pun telah direkayasa sedemikian rupa. Hingga berujung pada opini bahwa HAM adalah kekuatan yang layak ditakuti. Dampaknya, “orang-orang kuat” dunia pun “grogi” bila harus berurusan dengan perkara yang satu ini. Aparat keamanan, baik militer maupun kepolisian yang notabene pegang senjata pun “amat takut” bila dikasuskan perihal HAM. Tak heran, bila HAM kemudian sering dijadikan senjata yang ditunggangi kepentingan pihak-pihak yang tengah berupaya menjatuhkan rival politiknya.

HAM itu sendiri sejatinya merupakan produk musuh-musuh Islam. Tujuannya adalah pendangkalan keimanan umat dan pembentukan karakter mereka agar menjadi orang-orang bebas, berani melawan, memberontak dan menentang segala sesuatu yang tidak sesuai pikiran dan hawa nafsunya, dengan dalih hak asasi. Tanpa memedulikan siapa yang dilawan dan ditentangnya itu. Akhirnya, hawa nafsu diperturutkan dan syariat pun ditanggalkan.

Namun anehnya, wacana HAM yang bergulir bak bola api di tengah umat ini, justru disambut dan diperjuangkan oleh “umat Islam”. HAM pun diundangkan. Pemerintah sering kali dihujat dan dikasuskan dengan alasan pelanggaran hak asasi. Di lain pihak, dengan alasan hak asasi pula, terkadang syariat dan aturan agama diabaikan. Bimbingan dan petunjuk ilahi pun dikesampingkan. Padahal, siapakah makhluk yang bernama manusia itu? Sejauh itukah keberaniannya kepada Allah  Yang Maha Kuasa sang Pencipta?!

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah  yang menjalani roda kehidupan di dunia fana ini. Dengan segala hikmah dan keadilan-Nya, Allah jadikan mereka sebagai makhluk yang dilingkupi segala keterbatasan. Allah l menciptakan moyang mereka (Adam q) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Sebagaimana firman Allah:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Al-Hijr: 26)

Sedangkan keturunannya, Allah ciptakan mereka dari percampuran setetes air mani suami dan istri. Kemudian Allah l menjadikannya mendengar dan melihat, untuk diuji oleh-Nya dengan berbagai perintah dan larangan. Sebagaimana firman Allah:

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 1-2)

Tak ubahnya makhluk hidup lainnya, manusia pun mengalami sekian fase dalam kehidupannya. Tercipta sebagai hamba yang lemah, kemudian menjadi kuat (fisiknya) dan mengakhiri kehidupannya pun dalam keadaan lemah. Allah l berfirman:

“Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum: 54)

Demikianlah manusia dengan segala keterbatasannya. Semua (hakikatnya) dalam perjalanan menuju Rabb-nya. Kemudian setelah meninggal dunia, akan bertemu dengan Allah l untuk melihat segala kebaikan ataupun kejelekan yang dikerjakannya, kemudian menerima balasan dari perbuatannya yang baik maupun yang buruk itu. Allah l berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (semut yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejelekan seberat dzarrah (semut yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az-Zalzalah: 7-8)