Tag

, , , , ,


Dikutip dari Jurnal Mahasiswa Filsafat UGM, Manusia merupakan perwujudan dari alam bukan sebagai penakluk alam, namun menjadi penyelaras di alam serta bukan menjadi pemangsa alam. Manusia sebagai perwujudan dari alam seharusnya mengungkapkan keindahan, kebenaran, dan kebaikan alam; dan mengartikulasikannya dalam pengolahan moral atau alam dari kehidupan manusia atau sifat manusia. Sebagai bagian dan bidang dari alam, manusia tidak berdiri menentang alam dengan cara yang bermusuhan. Sebaliknya, manusia memiliki keprihatinan dan perhatian yang mendalam pada alam  karena cocok dengan sifatnya sendiri. Untuk pertumbuhan dan kesejahteraannya sendiri, manusia harus mengolah hubungan internal dalam dirinya antara dirinya dan alam semesta. Menaklukkan alam dan mengeksploitasinya adalah bentuk perusakan diri dan perendahan diri bagi manusia.
Dalam dunia modern, kesejahteraan manusia sangat ditentukan oleh usaha-usaha yang dilakukan manusia itu sendiri, sehingga ada orang yang kaya dan orang yang miskin. Usaha-usaha yang dilakukan manusia tersebut ada yang bersifat individual (untuk kepentingan prinbadi) yang menghalalkan segala cara demi kesejahteraan pribadi, dan ada yang bersifat komunal (untuk masyarakat) yang mementingkan keseimbangan yang ada dalam lingkungan.Sikap egois manusia yang tidak pernah habis-habisnya untuk memperoleh keuntungan sesaat telah menghasilkan kecenderungan manusia untuk melakukan manipulasi terhadap lingkungan. Ini mengganggu keseimbangan antara manusia dan lingkungannya dan intensitas ketergantungan itu semakin lama semakin meningkat kualitasnya.
Saat sekarang ini ilmu pengetahuan, juga sedang memerankan fungsi yang tidak baik, dia tidak saja mencemari lingkungan manusia, merusak jaringan tubuh manusia, pada akhirnya manusia jahat ingin menggantikan manusia baik. Ada juga masalah pencemaran yang lebih parah pada manusia, yakni bahwa air tawar di atas dunia sekarang ini, hampir tidak ada yang murni lagi. Baik itu air dibawah tanah atau diatas tanah, bagaimanapun manusia berusaha agar air tersebut disaring dan dimurnikan, juga tidak dapat mencapai tingkat kemurnian yang benar-benar dari air itu.
Untuk itulah Pojok Pendidikan lahir dari keinginan dan kebutuhan (Need and Want) Lingkungan Pendidikan yang alami.
“Education is not a preparation for life, education is life itself.”
Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian John Dewey menegaskan pemikirannya tentang pendidikan. Dengan demikian, umur pendidikan sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini.
Dikutip dari tulisan Drs. Suparlan, M.Ed; Ketika Adam diciptakan oleh Tuhan, bersama itu pulalah proses pendidikan telah berlangsung, sebagai suatu sistem yang dibangun oleh Allah SWT. Adam diajari untuk dapat menyebutkan nama-nama yang ada di bumi, tempat kehidupan Adam dan keturunannya. Dengan demikian, yang dimaksud pendidikan sebenarnya memang dengan makna kehidupan itu sendiri. 
Tidak demikianlah halnya dengan malaikat dan iblis. Adam dapat menyebutkan nama-nama, sementara malaikat dan iblis tidak dapat menyebutkan nama-nama itu. Mengapa? Karena hanya manusialah yang telah memperoleh pendidikan, langsung dari Allah SWT. Itulah proses pendidikan yang dilakukan oleh manusia untuk pertama kalinya. Proses itu kemudian dikembangkan sendiri oleh manusia, karena manusia memiliki otak, faktot penentu kelebihan manusia dibandingkan dengan mahluk lain yang sama-sama diciptakan Allah SWT. 
Untuk menjadi manusia yang sempurna, manusia tidak boleh tidak memang harus belajar, atau harus memperoleh pendidikan. Manusia merupakan mahluk yang dapat diajar dan dapat mengajar. Siapa yang berhenti belajar, artinya ia telah mati.

“Animat educandum dan animal educancus. Manusia mahluk pembelajar, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.”