Tag

, , , , , ,


E-learning atau electronic learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-learning, namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya.

Dalam berbagai literatur, e-learning didefinisikan sebagai berikut:

“e-learning is a generic term for all technologically supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided instruction also commonly referred to as online courses” (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2008). 

Indonesia yang terletak diantara 6º LU sampai 11º LS dan 95º BT sampai 141º BT adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak diantara dua benua, Asia dan Australia dengan jumlah kepulauan 17.000 lebih yang membentang sepanjang  kurang lebih 3.200 mil dari Timur ke Barat serta 1.100 mil dari Utara ke Selatan. Kondisi geografi ini sedikit banyaknya menjadi kendala dalam penyebarluasan layanan pendidikan dan pelatihan yang menggunakan metode konvensional (tatap muka) kepada seluruh warga negara.

Nah bagaimana pemangku kepentingan Pendidikan Tinggi sebagai puncak tertinggi institusi pendidkan di Indonesia melihatnya?
Dalam acara Friday Online Seminar bertajuk “Building Human Capital Through e-Learning” di Marketers Online Radio disampaikan beberapa pendapat sebagai berikut:
Praktik e-learning sudah lama dilakukan oleh berbagai instansi, khususnya instansi pendidikan. Universitas Terbuka boleh dibilang menjadi pelopor dari sistem pendidikan jarak jauh tersebut. Tren e-learning makin populer ketika kampus-kampus swasta turut melakukannya.
“Potensi e-learning ini cukup besar dan diminati oleh masyarakat di banyak negara. Di Amerika Serikat, ada 6,1 juta yang mengambil bachelor degree melalui online. Konsep ini di dunia pendidikan bukanlah konsep baru. Kami sebagai universitas swasta berterimakasih pada universitas terbuka karena mempopulerkan sistem pembelajaran ini,”  Pantri Heriyati, M.Comm head of school-Management, Bina Nusantara, Jakarta dalam Friday Online Seminar bertajuk “Building Human Capital Through e-Learning” di studio Jakarta, Jumat (02/03/2012).
Heriyati mengatakan di Binus praktik e-learning ini dinaungi dalam program Binus Online yang terbagi dalam dua musim, yakni ekstensi selama dua semester dan program komplit. “Kami melihat permintaan e-learning cukup besar. Meski demikian, promosi dan edukasi perlu kontinu digalakkan, khususnya kepada korporat yang mana skill dan knowledge sumber daya manusia di perusahaan tersebut perlu ditingkatkan,” imbuh Lianti Raharjo, Head of Program Undergraduate, School of Management Binus Business School.
Sementara itu, Nur Agustinus, Coordinator Faculty of Entrepreneurship and Humanities Universitas Ciputra Surabaya, mengatakan program e-learning bisa dilakukan kapan pun dan di manapun karena sifatnya yang lintas batas. Agustinus mengatakan e-learning masih memiliki tantangan untuk Indonesia. Misalnya, masih ada anggapan miring bahwa lulusan e-learning kurang berkualitas bila dibanding sistem belajar konvensional. “Tantangan lain berupa keterbatasan infrastruktur Internet,” tandas Agustinus.
Sementara, Djadja Sardjana, Manager Human Capital+Knowledge Management Comlabs-ITB menambah tantangan lain adalah kultur dan kebijakan  yang kurang mendukung e-learning. “E-learning bukan sekadar memindah materi kuliah konvensional ke online. Perlu modul-modul untuk disajikan secara online dengan menarik. Bukan sekadar memindah file-file yang membosankan. Inilah yang menjadi tantangan bagi tenaga pengajarnya,” katanya. Ia menambahkan e-learning sering dianggap hanya cocok untuk kampus-kampus IT. e-Learning, kata Djadja, juga bisa dilakukan untuk semua institusi, termasuk kedokteran sekalipun.
Serta perlu disadari bahwa:
Penerapan Pembelajaran Dengan Media Baru tidak hanya menambahkan sesuatu, tetapi mengubah segalanya. Sistem baru biasanya melawan sistem yang sudah ada. Hal ini bersaing dengan waktu, uang, perhatian, prestise, dan pandangan dunia pendidikan