Tag

, , , , , , ,


“Aset paling berharga yang dimiliki oleh sebuah perusahaan adalah pengetahuan. Kemampuan untuk menciptakan dan berbagi pengetahuan akan menjadi factor #1 penentu kesuksesan di abad mendatang.” – Manajer sebuah perusahaan otomotif di AS

Hal itulah yang saya  dapat saat mengikuti  Acara Forum Knowledge Management Society Indonesia (KMSI) sbb:

Hari/Tanggal    : Kamis, 16 Februari 2012

Waktu                   : Pkl 09.00 – 15.15 WIB
Tempat                 : PT Telkom, 
Jl. Japati No. 1 Bandung, Ruang Infocom GKP TELKOM Lt. 8

Agenda Acara

Waktu 

Agenda 

PIC 

09.00 – 09.15

Registrasi

Panitia

09.15 – 09.45

Sambutan dari Direktur HCGA TELKOM

Bapak Faisal Syam *

09.45 – 10.00

Sambutan dari KMSI

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

10..00 – 10.30

Break

Acoustic Play

10.30 – 11.15

Implementasi Knowledge Management di Telkom

VP BPE PT. Telkom

11.45 – 12.00

KAMPIUM sebagai Knowledge Repository

AVP KM dan Tim PT. Telkom

12.00 – 13.00

ISOMA

13.00 – 15.00

Sharing Knowledge Map

1.     The Ecosistem of Knowledge Assesment for Knowledge Audit and Mapping

2.     Metodologi pengembangan Knowledge-Map

1.     M. Santo (founder Mobeeknowledge)

2.     Moh. Haitan Rachman (VP KMSI program)

15.00 – 15.15

Penutup

Prof. Jann Hidajat (Presiden of KMSI)

Banyak perusahaan yang punya kepedulian besar terhadap “Knowledge Management” (Manajemen Pengetahuan) untuk Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan. Diantaranya adalah Telkom, Pertamina, PLN, Pos Indonesia dan masih banyak BUMN dan perusahaan di Indonesia yang memahami, melaksanakan dang mengevaluasi “Knowledge Management” di Perusahaannya.

Mereka menyadari pernyataan Peter Drucker pada tahun 1995 bahwa “pengetahuan telah menjadi sumber daya ekonomi utama dan sumber paling dominan untuk unggul dalam persaingan telah menunjukkan pentingnya memperhatikan pengetahuan dengan serius.” Dalam buku “Mendapatkan Keunggulan dengan Pengetahuan” karangan Rudy Ruggles dari “The Ernst & Young Center for Business Innovation”, serta Dan Holtshouse dari “Xerox Corporation” memperlihatkan arti dan kebijaksanaan sebenarnya dari memperoleh keunggulan kompetitif dengan pengetahuan.  Buku ini juga memaparkan beberapa pandangan tentang sejarah pengelolaan pengetahuan dan merefleksikan sejarah itu melalui kacamata keunggulan dengan pengetahuan.

Sejarah Singkat Pengelolaan (Manajemen) Pengetahuan

Telah ada beberapa karya tentang pengelolaan pengetahuan, termasuk The Knowledge-Creating Company (Perusahaan Pencipta Pengetahuan) karya Ikujiro Nonaka dan Hirota Takeuchi, tulisan-tulisan Tom Stewart dalam majalah Fortune tentang kekuatan otak dan modal intelektual dan bukunya yang berjudul Intellectual Capital (Modal Intelektual), selain itu ada Fifth Discipline (Ilmu/Disiplin Kelima) karya Peter Senge, yang mengangkat istilah “learning organization” menjadi pembicaraan umum di bidang bisnis.

Pengelolaan pengetahuan, sebagian berakar dari adanya sistem kecerdasan dan keahlian buatan.  Di tahun 1960an dan 1970an, orang mengira bahwa computer akan menyimpan pengetahua untuk kita, tetapi ternyata pengetahuan masih tersimpan dalam otak manusia.

Di akhir tahun 1980an, terjadi pengurangan jumlah pekerja sehingga perusahaan-perusahaan harus memikirkan cara baru memindahkan pengetahuan.  Pemberhentian karyawan tingkat menengah mengakibatkan hilangnya sumber pengetahuan (pengalaman yang dimiliki karyawan).  

Bersamaan dengan itu, rekayasa ulang proses bisnis berusaha menangkap pengetahuan yang berhubungan dengan proses, tetapi ada kelemahannya yaitu hanya meperhatikan pengetahuan yang eksplisit.  Usaha-usaha tersebut, dan ditambah dengan Total Quality Control dan ISO, mendorong berbagai organisasi untuk mengungkapkan dengan jelas apa yang mereka ketahui dan lakukan.

Pengaruh-pengaruh lain berasal dari Leif Edvinsson yang menulis tentang modal intelektual, dan Margaret Wheatley yang menulis tentang kepemimpinan dan sains baru. Selain itu, munculnya internet menjadi kultur populer, dan dibantu oleh berbagai browser, memungkinkan semua orang di dalam dan diluar organisasi untuk mengakses data dan informasi dalam jumlah besar.

Sekarang, perusahaan-perusaan dengan masalah yang lebih besar, yang melibatkan lebih banyak orang.  Sayangnya, jumlah pekerja ahli tidak banyak. Selain itu perusahaan-perusahaan juga memiliki masalah dalam mengambil pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan senior dan berpengalaman sebelum mereka pensiun.

Model bisnis secara keseluruhan telah berubah. Sekitar tahun 1980an, orang-orang mulai dimasukkan ke dalam kelompok-kelomppok kerja, dan kelompok bisa menentukan cara melakukan pekerjaan mereka sendiri.  Agar bisa melakukan hal ini, mereka memerlukan informasi yang lengkap, dan mereka membutuhkannya dengan cepat.  Terdapat sebuah siklus yang menarik, kita dihadapkan dengan berbagai ekspektasi kerja, kemudian teknologi dikembangkan untuk mendukung berbagai gaya kerja, yang kemudian memungkinkan bertambahnya ekspektasi kerja.  Saat ini, teknologi membukakan berbagai pintu bagi semua orang untuk mendapatkan pengetahuan dan menerapkannya.  Pengetahuan diakui sebagai alat yang bisa digunakan oleh semua orang.

Perkembangan Saat Ini

Dalam beberapa tahu terakhir, terjadi perubahan besar dalam lingkungan bisnis umum, yang kemudian meningkatkan kebutuhan akan pengelolaan pengetahuan yang lebih aktif daripada sebelumnya. Sekarang kita akan membahas lingkungan di mana pengelolaan pengetahuan diterapkan.

Buku karya Chris Meyer dan Stan Davis berjudul “BLUR” menyiratkan bahwa: “kerja pikiran mulai mengungguli kerja otot dalam kaitannya dengan nilai dalam ekonomi global”.  George Gilder dalam buku “Microcosm” menyatakan:  “Kejadian utama pada abad keduapuluh adalah jatuhnya nilai materi.  Dalam hal teknologi, ekonomi, dan politik, nilai dan signifikansi kekayaan dalam bentuk fisik akan terus berkurang.  Kekuatan pikiran akan muncul di mana-mana dan mengungguli kekuatan fisik.”  Pengetahuan diterapkan untuk menciptakan nilai dengan lebih efektif.  Selain itu, koneksi elektronik memungkinkan kita mempertemukan orang-orang yang jaraknya jauh untuk mencipta dan berbagi ide, yang merupakan hal penting bagi industri dan perusahaan.

Jadi, pengetahuan adalah produk dari lingkungan.  Pengetahuan adalah respon organisasional terhadap perubahan.  Dulu, sumberdaya yang patut dikelola dengan efektif adalah lahan, pekerja, dan modal uang, sekarang aset yang lebih berharga adalah modal pengetahuan.